Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2014

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness : Share your happiness with the Bay Bali & Get discovered! http://www.thebaybali.com

Bali

Bali

Jawaban Kesabaran

Aku yakin jika setiap orang yang ada didunia ini pasti menginginkan kebahagiaan. Tidak ada orang yang mau dan mampu menolak kebahagiaan. Hanya saja tingkat dan bentuk kebahagiaan setiap orang itu berbeda-beda. Seperti diriku yang mungkin berbeda dalam memilih kebahagiaanku sendiri.
Ketika masih sekolah dasar dulu, bahagia untuk kebanyakan anak seusiaku baik laki-laki ataupun perempuan kebanyakan sama bentuknya. Ingin lebih banyak bermain daripada belajar, atau bisa melakukan keduanya sekaligus supaya jauh lebih menyenangkan.
Usia remaja mungkin bentuk kebahagiaannya menjadi berbeda karena beranjak dewasa. Kebanyakan laki-laki dan perempuan pada usia ini sedang senang-senangnya memiliki banyak teman dan juga aktif di banyak kegiatan sekolah. Aku pun juga melakukan hal yang sama.
Saat masa sekolah selesai, hampir semua laki-laki dan perempuan mengharapkan kebahagiaan mereka naik ke tingkat yang lebih tinggi supaya lebih dihargai dan dianggap dewasa. Mereka lalu menempuh pendidikan di universitas bahkan banyak juga yang langsung bekerja, malah melakukan keduanya sekaligus.
Banyak sekali orang yang mengatakan jika sebenarnya kehidupan kita baru dimulai saat berumur dua puluh tahun. Rasa berjuang dalam hidup benar-benar akan terasa semenjak menginjak kepala dua.
Tidak bermaksud menganggap bahwa sepanjang hidup menjelang dua puluh tahun adalah hal yang mudah. Banyak juga perjuangan yang harus dilalui seperti ujian-ujian kenaikan kelas pada saat sekolah dulu.
Tetapi maksud yang kutangkap dari pernyataan itu lebih karena kebanyakan orang belajar untuk mandiri dan tidak bergantung pada orang tua ketika mereka memasuki usia dua puluh tahun. Mereka sudah berani untuk memutuskan apa yang terbaik untuk diri mereka. Dan diharapkan mereka pun juga berani untuk mempertanggungjawabkan hasil dari keputusan mereka tersebut.
Kebahagiaan tingkat ini menjadi beberapa hal yang lebih serius dan fokus. Umumnya, ketika sudah menginjak dua puluh tahun tingkatan kebahagiaannya dimulai dari memiliki pekerjaan, menikah dan memiliki anak. Singkatnya, semua orang cenderung menginginkan tingkat kebahagiaan seperti itu. Termasuk diriku.
Bagi diriku yang semasa kecil merasakan kesenangan untuk menjelajahi setiap sisi imajinasi anak-anak, hidup terasa sangat bahagia. Walaupun pertengkaran dan kekerasan sering terjadi didalam rumah.
Sayangnya, masa remajaku justru sebaliknya. Bahkan ketika menginjak usia dua puluh tahun, kebahagiaan dalam merasakan kebebasan untuk menjalani kehidupan sangat jauh dari jangkauanku. Aturan-aturan yang tidak umum dan berlebihan antara orang tua kepada anaknya membuatku terkekang. Setiap peraturan dilanggar baik sengaja ataupun tidak, itu hanya akan membuat ruang gerakku semakin sempit dan sakit karena kekerasan verbal dan fisik.
Begitu parahnya, sampai-sampai sering memikirkan hal yang tidak berdasar dan bertanggungjawab yang kuanggap dapat menjadi sebuah jalan kebebasan dari semua permasalahan.
Syukurlah aku tidak pernah benar-benar berniat untuk melakukannya. Sekalipun setiap harinya terasa semakin sakit dan perih. Semuanya itu karena aku memiliki sebuah harapan untuk bahagia dengan caraku sendiri. Keyakinan bahwa Allah SWT pasti akan membalas semua kesabaranku dengan kebaikan. Suatu saat aku akan memiliki keluargaku sendiri yang sangat kucintai dan mencintaiku dengan tulus.
Tetapi mencintai seseorang bukanlah hal yang mudah untukku. Selain karena sejarah yang pernah terjadi dalam hidupku, aku kurang memiliki pengalaman dalam memiliki perasaan khusus dengan lawan jenis, aku juga memang tidak mudah tertarik dengan orang lain.
Rasa percaya yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang terhadap sesama hilang sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu, karena seringnya dikhianati oleh anggota keluarga yang seharusnya melindungi dan menjagaku dalam kebaikan.
Rasa traumaku pada ikatan hubungan perpacaran terutama pernikahan tumbuh semakin besar dihati dan pikiranku, hanya karena sebagai anak mendapati bahwa pernikahan kedua orang tuaku pada akhirnya gagal setelah selama hampir dua puluh enam tahun bersama dipenuhi dengan teriakan, kekerasan hingga perselingkuhan.
Tapi aku terus berusaha dan belajar hingga akhirnya bertemu dengan kebahagiaan terbesarku.
Pria itu adalah kebahagiaan terbesarku. Aku memang tidak langsung mengetahuinya. Butuh proses perkenalan dan pertemanan untuk dapat memberikan rasa percaya pada sebuah hubungan. Karena proses untuk percaya sudah sangat sulit bagiku. Tapi aku bisa merasakan sejak awal jika pria ini berbeda, aku bisa mempercayainya bahkan mencintainya.
Namun ternyata, untuk mencapai tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi lagi pun tidaklah mudah. Menjalankan ibadah dan sunnah Rasulullah saja kami harus berusaha lagi lebih giat. Menikahi pilihanku sendiri ternyata tidak memuaskan hati orang tuaku. Bagi mereka termasuk adik perempuanku, materi dan kemapanan adalah dua hal yang juga harus mendasari sebuah pernikahan agar dapat berjalan sukses.
Sedangkan bagiku, bahagia tidaklah semata dilihat dari materi. Sebaik apapun penampilan luar tidaklah penting jika didalamnya ternyata buruk. Seorang pria yang dapat mencintaiku tulus dan bertanggungjawab dalam hidup, bagiku sudah cukup. Asalkan dalam menjalani hidup dengan penuh suka cita dan keikhlasan, semuanya pasti dapat tercapai.
Allah SWT ternyata begitu mengasihi diriku dan calon suamiku, hingga pada akhirnya segala doa yang kami panjatkan selama ini dapat terwujud. Pernikahan menjadi sebuah momen yang tidak akan kami lupakan, terutama dengan semua perjuangan yang mengawalinya.
Begitupun juga dengan keinginan kami untuk menghabiskan waktu bulan madu di pulau dewata. Betapa bahagianya kami menikmati suasana bali disana. Sengaja memilih lokasi hotel yang dekat dengan pantai Nusa Dua. Setiap pagi bergandengan tangan melihat deburan ombak yang berayun-ayun, teringat akan perjalanan panjang cinta kami serta kehidupanku secara pribadi. Ketika malam tiba, kami berbicara dari hati ke hati sambil menikmati menu makan malam Bebek Goreng favorit kami yang nikmat di restoran Bebek Bengil di The Bay Bali.

Bebek Bengil The Bay Bali

Bebek Bengil The Bay Bali

Begitu mesra dan bahagianya. Betapa kami bersyukur atas semua yang telah diberikan-Nya.
Pernikahanku saat ini memang baru akan setahun. Mungkin masih banyak yang harus dipelajari. Mungkin juga masih akan ada banyak tantangan didepan nanti. Tapi aku yakin, kami dapat menghadapi semua dengan baik. Begitupun juga dengan perasaan kami satu sama lain yang akan semakin kuat setiap harinya.
Bagiku, suamiku adalah perwujudan dari banyak doa yang selama ini kupinta pada Allah SWT. Pelengkap diriku dan kehidupanku. Aku sungguh bahagia dan bersyukur karenanya.
Kini kami pun menginginkan anak-anak sebagai pelengkap kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan kami. Pengalaman yang sudah pernah kualami akan menjadi pelajaran dan cermin untuk menjadikanku dan suami sebagai orang tua yang jauh lebih baik. Kami pasti akan menyayangi dan membahagiakan anak-anak kami.
Semoga keinginan kami ini dapat segera terwujud untuk melangkah ke tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi lagi.

Advertisements

Read Full Post »